Pilihan Investasi di Masa Lesu
Jakarta - Baik saham dan obligasi memberikan return yang sangat mengecewakan di tahun 2008. Sedangkan suku bunga deposito naik cepat. Apakah sekarang saatnya berpindah dari saham dan obligasi ke deposito?Berikut analisa investasi NISP Sekuritas, Kamis (25/9/2008):Saham IHSG Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan 35% sejak awal tahun. Saham komoditas (batubara & kelapa sawit) yang pada awal tahun menunjukkan kinerja luar biasa, mengalami koreksi tajam sejak Juli 2008. Saham perbankan yang telah terkoreksi sejak akhir 2007, mencapai titik terendah pada Juni 2008.Memasuki bulan September, bursa saham terkoreksi tajam menembus titik support 2000 (9 September). Kondisi panik akibat bangkrutnya Lehman Brothers menyebabkan penembusan support 1800 (12 September). IHSG menyentuh titik terendah 1719 pada 15 September, kembali ke titik seperti pada akhir November 2006 dan menghilangkan semua pertumbuhan IHSG sepanjang tahun 2007.Dengan IHSG berada di 1700-an, PER IHSG sudah berada di 9,5 kali atau sekitar 25% di bawah rata-rata jangka panjang PER IHSG yaitu 12 kali. Pasar telah memangkas semua optimisme investor yang mencapai puncaknya pada periode akhir 2007 - awal 2008, dimana PER pasar berkisar 17 kali. Saat ini pasar sedang menguji pesimisme dan kesabaran investor.Dengan valuasi PER IHSG di 9,5 kali, kami melihat kondisi investasi saham menjadi 'High Risk, High Return'. Kondisi 'high risk' terjadi karena saat investor pesimis, pasar yang sudah murah (PER sebesar 9,5X) dapat menjadi lebih murah (artinya penurunan IHSG berlanjut). Misal valuasi IHSG turun ke PER 8 kali, atau ke 1.500, menyamai valuasi dimasa bearish 2000-2002. Risiko utama adalah: perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya sentimen negatif di pasar kredit global akibat krisis sub-prime. Peluang 'high return' dimungkinkan karena valuasi saham yang sangat murah. Sehingga pemulihan harga saham nantinya akan memberikan return yang menyamai return rata-rata jangka panjang IHSG yaitu sekitar 20% per tahun. Catatan: return rata-rata IHSG IDX tahun 1988-2007 adalah 19%, di luar dividen.ObligasiIndeks Harga SUN (dari HSBC) turun 14,3% sejak awal tahun (YTD). Dari titik terendah pertengahan Juni 2008 sampai awal Agustus, Indeks SUN HSBC sempat naik 11%. Tapi indeks SUN HSBC kembali terkoreksi sebesar 8% dari minggu ke-2 Agustus sampai 16 September. Pada saat ini, yield SUN bertenor lima tahun sudah mendekati 13% per tahun.Harga obligasi yang murah menjadikan instrumen ini sebagai pilihan investasi utama untuk satu tahun ke depan. Kami melihat obligasi sebagai pilihan investasi yang 'Low Risk, High Return'. 'Low Risk' dimungkinkan karena penurunan harga obligasi sudah sangat terbatas. Pemerintah menjadi lebih berhati-hati dalam menerbitkan obligasi baru. Bahkan pemerintah berniat melakukan buyback SUN mengingat harga obligasi sudah sangat murah. Inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga sudah terfaktorkan dalam tingkat yield sekarang.Sejalan dengan stabilnya inflasi, diperkirakan suku bunga akan stabil bahkan turun pada semester ke-2 tahun 2009. Bila suku bunga stabil atau menurun, maka terbuka potensi capital gain pada investasi obligasi. Potensi capital gain tersebut berkisar antara 3% sampai 8%, tergantung durasi obligasi. Capital gain ini menambah return investasi obligasi sehingga menjadi skenario 'high return', yang bisa mencapai 20% per tahun (asumsi durasi obligasi limatahun). Skenario pemulihan harga obligasi di tahun 2009 mirip seperti pemulihan harga obligasi di tahun 2006.Sebagaimana diketahui pada tahun 2005 bearish obligasi disebabkan crash reksa dana pendapatan tetap, lonjakan inflasi, dan suku bunga yang tingi. Sebaliknya, stabilitas di tahun 2006 dan penurunan bunga mendorong kenaikan harga obligasi yang luar biasa.Dalam skenario kondisi bearish obligasi berlanjut sampai akhir 2009, maka investor diperkirakan tetap memperoleh return yang lebih baik (yield obligasi lima tahun sekitar 13% per tahun) dibandingkan rata-rata bunga deposito.Risiko utama bearish obligasi adalah berlanjutnya krisis kredit global sehingga investor asing mengurangi posisinya di SUN. Selain itu kebijakan perpajakan obligasi juga menjadi sentimen negatif.Kesimpulan Dengan melihat kondisi-kondisi di atas, pilihan investasi paling menarik saat ini adalah obligasi (berdasarkan yield & potensi capital gain, dan risiko yang terbatas). Deposito dengan bunga tinggi hanya bertahan untuk beberapa bulan, seperti yang terjadi pada akhir 2005 sampai awal 2006.Pilihan saham jatuh pada saham perusahaan berbasis konsumen domestik yang kuat dan valuasi murah seperti telekomunikasi (TLKM), perbankan (BMRI, BBNI, BBRI, BBCA), konsumer (KLBF), dan semen (SMGR).Penurunan harga ASII yang dratis membuat valuasinya sangat menarik dengan PER 2008-2009 sekitar 9 kali. ASII merupakan konglomerat (memiliki AUTO, AALI, UNTR, BNLI, dan ASGR) dengan kinerja konsisten. PGAS & UNVR meskipun valuasinya mahal tetap menarik. PGAS adalah penyedia sumber energi bersih dengan potensi pertumbuhan tinggi. UNVR memiliki lini produk konsumer yang dipakai secara luas oleh masyarakat Indonesia.Kutipan dari tokoh investasi berikut perlu dijadikan panduan investasi pada masa bearish.Sir John Templeton (Pendiri & Pemilik Templeton Fund): "The time of maximum pessimism can be the best time to buy, and the time of maximum optimism can be the best time to sell".Baron Nathan Mayer Rothschild (Rothschild Banking Family, England): "Buy when there's blood in the streets, even if the blood is your own".
Saham Masih Jadi Pilihan Investasi Jangka Panjang
Jakarta - Di tengah kondisi pasar keuangan global yang penuh gejolak, bahkan beberapa menyebutnya sebagai depresi besar kedua, namun investasi saham masih jadi pilihan untuk investasi jangka panjang. "Kalau untuk investor jangka panjang sebetulnya saham masih sangat menarik. Sebab, apa yang terjadi belakangan ini lebih didorong oleh faktor global. Fundamental saham-saham di Indonesia masih bagus kok," lugas Presiden Direktur PT First State Investment, Legowo Kusumonegoro saat dihubungi detikFinance, Senin (22/9/2008).Menurut Legowo, penurunan IHSG selama 3 pekan di bulan September 2008 lebih didorong oleh faktor bursa global. Secara fundamental, kinerja emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih skala yang normal."Jadi sebenarnya untuk investasi jangka panjang saham masih menarik, termasuk reksa dana saham," ujar Legowo.Pada penutupan perdagangan 29 Agustus 2008, IHSG berada di level 2.165,94. Pada penutupan 19 September 2008, IHSG anjlok 12,66% ke level 1.891,73. Bahkan pada penutupan perdagangan 15 September 2008, IHSG sempat menembus level 1.719,25, atau anjlok 20,62% dibanding penutupan Agustus 2008.Penurunan IHSG dianggap menjadi sebab terjadinya redemption cukup besar pada produk-produk reksa dana, terutama yang berbasis saham.Akibatnya, menurut Legowo, banyak investor-investor reksa dana saham yang beralih ke deposito karena menawarkan suku bunga yang lebih menarik."Saya tidak pegang data pastinya, tapi memang ada yang berpendapat banyak investor reksa dana yang beralih ke deposito. Mereka memang menawarkan tingkat suku bunga yang pasti dan lebih menarik ketimbang return beberapa produk reksadana," ulas Legowo.Oleh karena itu, Legowo mengatakan bahwa untuk investasi jangka pendek penempatan dana di deposito cukup menarik."Kalau untuk investasi jangka pendek memang kelihatannya deposito lebih menarik atau bisa juga di reksa dana pasar uang. Kalau investasi saham untuk jangka pendek, pasar masih sangat volatile, jadi memang kurang menarik," imbuh Legowo.Atas dasar itu, Legowo memberi saran bagi investor-investor yang ingin berinvestasi, deposito dan reksa dana pasar uang bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, untuk investasi jangka panjang, saham dan reksa dana saham, juga reksa dana terproteksi bisa menjadi pilihan.
Nasabah Reksa Dana Jangan Panik
Jakarta - Nasabah reksa dana diimbau untuk tidak panik ditengah situasi pasar finansial yang sedang menghadapi ketidakpastian ini. Kinerja reksa dana yang anjlok terjadi bukan karena redemption besar-besaran.Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany di Gedung Depkeu, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (15/9/2008).Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana diakuinya memang mengalami penurunan karena adanya penurunan pasar akibat gejolak di pasar keuangan AS."Tapi sekarang kan investor sudah lebih dewasa mereka tidak perlu lagi me-redemp, toh harga saham di Indonesia sudah murah jadi tidak usah panik. Namanya investasi itu harusnya jangka menengah panjang, kalau lagi rendah sekarang pasti akan naik lagi. Ini kan temporary saja karena gejolak di AS," ujarnya.Meskipun demikian, Bapepam akan memonitor kinerja reksa dana bekerjasama dengan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) dan para manajer investasi."Saya minta MI-MI (Manajer Investasi) berkomunikasi dengan nasabahnya agar mereka bertahan dan tidak usah panik, pokoknya kita terus melakukan hal yang positif buat market," ujarnya.Ketua APRDI, Abiprayadi Riyanto di tempat yang sama juga senada dengan Fuad, menurutnya penurunan kinerja reksa dana terjadi penurunan karena pasar yang sedang tidak bagus dan bukan karena redemption besar-besaran. Misalnya reksa dana saham yang nilai marketnya turun sekitar 20 persen."Redemption dari dulu juga ada saya kira ada redemption ada subcription, jadi masih normal, kalau market turun banyak karena harganya turun ke bawah bukan hanya redemption saja," ujarnya.Saat ini total reksa dana keseluruhan itu mencapai Rp 90 triliun, dan sekarang orang malah justru mulai kembali masuk ke reksa dana."Kalau saya bilang kondisi sekarang itu gak apa-apa, malah sekarang saatnya masuk lagi, saya saja masuk lagi kok," ujarnya sambil tertawa.
Jumat, 16 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar