Jumat, 16 Januari 2009

Tentang Saham

Pasar Modal dan Transaksi Saham
Rubrik EUREKA (Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan) ini mengunjungi pembaca setiap hari Jumat. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis. Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau berkonsultasi seputar masalah-masalah perencanaan keuangan. Pertanyaan dapat dikirim lewat email: redaksi@sinarharapan.co.id, Faksimile Redaksi Sinar Harapan (021) 3912370, surat dialamatkan ke redaksi Sinar Harapan, Jalan Fachruddin No. 6, Jakarta 10250, dan bisa membuka di http://www.pembelajar.com/ISOL. Di awal Juli 2002, Harga Index Saham Gabungan Bursa Efek Jakarta berada pada kisaran tertinggi di 490-an dan terendah 470-an. Di akhir Juli, nilai IHSG mencapai titik terendah di kisaran 441. Bila Anda mengikuti perkembangan nilai IHSG, beberapa bulan terakhir, IHSG mengalami kenaikan yang cukup berarti, di mana bisa melampaui angka 500. Pertumbuhan ini, bisa karena aspek politik dan keamanan yang semakin baik. Hal ini juga bisa disebabkan semakin menguatnya nilai tukar rupiah dibandingkan dengan dolar. Ditambah lagi, suku bunga SBI yang mengalami penurunan tajam dari kisaran 15 persen sampai saat ini berkisar di 9,3 persen. Semua sebab ini, secara menyeluruh memberikan indikasi perbaikan terhadap keadaan ekonomi Indonesia.Membaiknya perekonomian Indonesia, akan memberikan peluang kepada para investor untuk kembali bermain di Bursa. Potensi tingkat keuntungan yang bisa didapat di pasar modal cukup tinggi. Tidak ada kesenangan dibandingkan dengan melihat kenaikan saham yang Anda beli. Tapi ingat, dalam semua investasi, potensi risikonya juga tinggi. Investor pemula yang ingin bermain di pasar modal sebaiknya mempelajari dan mencari informasi selengkap mungkin sekitar transaksi saham, baik cara maupun bagaimana melihat saham unggulan. Pembahasan kali ini, merupakan informasi awal dari pembelajaran yang terus-menerus, sehingga Anda bisa dibilang piawai dalam bermain saham.Peluang di Pasar ModalKepemilikan saham menyatakan satu unit kepemilikan dari perusahaan. Bila Anda membeli saham, maka Anda menjadi bagian dari pemilik perusahaan. Oleh karena itu, Anda akan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan yang dialami perusahaan. Dan tentunya, Anda mendapatkan kerugian bila perusahaan rugi.Saham diperjualbelikan melalui sarana pasar yang di Indonesia disebut Bursa Efek Jakarta. Bursa tersebut tidak membeli atau menjual saham-saham yang ada, melainkan bursa hanya merupakan tempat atau sarana bagi para investor untuk bertransaksi di dalamnya. Keberadaan Bursa saham menjadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Beberapa daya tarik pasar modal dijelaskan di bawah ini. Bagi perusahaan yang mencari dana segar, pasar modal memberikan peluang untuk mencari dana yang murah—selain dari sektor perbankan, seperti yang kita kanal selama ini. Perusahaan dapat menjual saham kepemilikannya melalui mekanisme IPO, dan mendapatkan dana dari penjualan tersebut. Atau, perusahaan bisa juga mengeluarkan surat utang atau yang biasa disebut obligasi kepada masyarakat luas dan membayar bunga yang lebih rendah dari bunga pinjaman perbankan.Pasar modal juga memberikan peluang kepada para investor untuk memilih investasi yang sesuai dengan tingkat toleransinya terhadap risiko. Seandainya tidak ada pasar modal, maka para pemodal mungkin hanya bisa menginvestasikan dana mereka dalam sektor perbankan—selain alternatif investasi pada real assets. Selain dari hal di atas, masih ada lagi daya tarik berinvestasi di pasar modal, yaitu tingkat likuiditas yang tinggi.Berinvestasi di BursaPara investor, dapat berinvestasi saham melalui pasar perdana, yaitu ketika perusahaan pertama kali menawarkan sahamnya kepada publik (go public). Istilah go public biasa juga disebut IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdana. Di pasar perdana, para investor langsung membeli saham dari perusahaan.Sebelum terjun atau membeli saham melalui skema IPO, sebaiknya Anda mempelajari perusahaan tersebut. Hal ini dapat Anda lakukan melalui prospektus yang dikeluarkan perusahaan. Di dalam prospektus terdapat informasi dari catatan keuangan historis sampai proyeksi laba dan dividen yang akan dibayarkan untuk tahun berjalan.Proyeksi laba bersih umumnya dibuat berdasarkan perkembangan industri di mana calon emiten bergerak. Benchmark yang digunakan adalah perusahaan sejenis. Apakah proyeksi pertumbuhan perusahaan rata-rata melampaui pertumbuhan industri?Atas dasar prakiraan tersebut, penjamin emisi dan emiten menetapkan harga penawaran. Harga penawaran biasanya lebih murah dibandingkan dengan rata-rata harga saham perusahaan sejenis yang sudah ada di bursa. Hal ini dilakukan untuk menarik investor untuk membeli. Penetapan ini, mencerminkan kesempatan bagi investor untuk mendapatkan capital gain ketika saham tersebut dicatatkan di bursa.Selain pasar perdana, investor juga dapat bertransaksi atau berinvestasi di pasar sekunder. Pasar sekunder ini dimulai ketika saham mulai dicatatkan di bursa. Saham yang dibeli sama dengan saham yang ditawarkan dalam IPO. Perbedaanya, investor membelinya dari investor lain yang ingin menjual saham tersebut. Tentunya melalui mekanisme transaksi broker sekuritas. Perusahaan broker harus sudah mendapatkan lisensi untuk melakukan jasa jual beli atau perantara pedagang efek (PPE) dan menjadi anggota bursa.Pasar Perdana dan Pasar SekunderBila dilihat dari kepentingan pemodal dalam membeli dan menjual saham, maka terdapat beberapa perbedaan antara pasar perdana dengan pasar sekunder. Pertama, pada pasar perdana, harga yang telah ditentukan tidak akan berubah, sedangkan pada pasar sekunder, harga berubah—berfluktuasi—sesuai dengan kekuatan supply dan demand. Transaksi perdagangan di pasar perdana tidak dikenakan komisi, sedangkan pasar sekunder, ada biaya komisi. Ketiga, pada pasar perdana hanya berlaku pada saat pembelian saham. Di pasar sekunder, bisa terjadi pola jual beli seperti halnya pasar secara umum. Dari sudut pandang jangka waktu, pasar perdana memiliki batas waktu, sedangkan pasar sekunder tidak.Satuan yang DipakaiBaik di pasar perdana maupun pasar sekunder, satuan standar saham yang diperdagangkan di pasar reguler disebut dengan istilah lot. Satu lot saham mewakili 500 lembar saham. Sedangkan kelipatan harga saham disebut poin. Nilai satu poin saat ini adalah Rp.5. Harga saham yang terbentuk di bursa merupakan hasil kesepakatan antara pembeli dan penjual.Di pasar sekunder dimungkinkan adanya perdagangan saham yang kurang dari satu lot. Istilah untuk saham pecahan ini biasa disebut odd lot. Namun transaksi saham odd lot dilakukan dalam mekanisme yang berbeda dengan transaksi di pasar regular. Perdagangan saham ini dilakukan melalui negosiasi antara pihak penjual dan pembeli. Perdagangan saham dengan mekanisme negosiasi juga dilakukan untuk perdagangan saham dalam jumlah besar (block trading). Jumlah saham yang diperjualbelikan minimal sebanyak 200.000 lembar.Transaksi Saham Sebelum dapat melakukan transaksi, investor harus menjadi nasabah di salah satu perusahaan efek yang menjadi anggota bursa. Seperti halnya Anda membuka tabungan, ada minimal investasi awal yang harus ditempatkan. Dalam hal transaksi saham, jumlah deposit yang diwajibkan bervariasi; misalnya ada perusahaan efek yang mewajibkan sebesar Rp 15 juta, sementara yang lain mewajibkan sebesar Rp 25 juta dan seterusnya. Namun ada juga perusahaan efek yang menentukan misalnya 50 persen dari transaksi yang akan dilakukan sebagai deposit. Misalkan seorang nasabah akan bertransaksi sebesar Rp 10 juta maka yang bersangkutan diminta untuk menyetor dana sebesar Rp 5 juta.Setelah Anda membuka deposit di sebuah perusahaan efek dan mendapatkan persetujuan dari perusahaan tersebut, Anda dapat langsung bertransaksi saham. Transaksi efek diawali dengan pemesanan (order) untuk harga tertentu. Pesanan tersebut dapat berupa surat maupun via telepon dan disampaikan kepada perusahaan efek melalui sales/dealer. Pesan tersebut harus menyebutkan jumlah yang akan dibeli atau dijual dan dengan menyertakan harga yang diinginkan. Sebagai contoh, misalkan Andi ingin membeli saham Telkom (TLKM) sebanyak 5 lot (2.500 lembar) pada harga Rp 4.625. Jadi dalam pesan ini ada jumlah saham sebanyak 5 lot dan harga saham di Rp 4.625.Pada dasarnya pesanan investor dapat dibedakan menjadi:l Market Order, yaitu pesanan jual maupun beli pada harga yang terbaikl Limit Order, yaitu order jual atau beli pada harga yang telah ditetapkan oleh nasabah.l All or None/ Fil or Kill, dalam hal ini transaksi baru bisa dilaksanakan bila jumlah efek yang ditawarkan sesuai dengan jumlah yang dipesan, jika tidak transaksi tidak dilaksanakanl Discretionary Order, yaitu order yang dilaksanakan berdasarkan tingkat harga yang menurut pendapat perantara pedagang Efek adalah harga terbaik untuk nasabahnyal Good through the Week, yaitu order yang harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan oleh nasabah.l Sebagai catatan, sistem yang digunakan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya saat ini adalah sistem limit order.Pesanan jual atau beli saham para investor dari berbagai perusahaan Efek akan bertemu di lantai bursa. Setelah terjadi pertemuan (match) antara order, maka proses selanjutnya adalah proses penyelesaian transaksi.Proses pembelian saham diawali dengan investor menghubungi Perusahan Efek di mana ia terdaftar sebagai nasabah. Investor menyampaikan instruksi beli kepada pialang. Misalnya investor ingin membeli saham Telkom (TLKM) sebanyak 5 lot, pada harga Rp 4.625. Selanjutnya instruksi tersebut disampaikan ke trader (WPPE) Perusahan Efek tersebut di Lantai Bursa. Kemudian trader tersebut memasukkan instruksi beli ke dalam sistem komputer pedagangan di BEJ yang dikenal dengan sebutan JATS atau Jakarta Automated Trading System. Sistem tersebut secara otomatis menggunakan mekanisme tawar-menawar secara terus-menerus (Continuous Auction) sehingga untuk pembelian akan didapat harga pasar terendah dan sebaliknya untuk tarnsaksi jual didapatkan harga pasar tertinggi. Suatu transaksi dinyatakan berhasil bila terjadi matched antara penawaran jual dan beli.Proses selanjutnya adalah penyelesaian transaksi. Dalam sistem Scripless trading, penyelesaian transaksi dapat dilakukan lebih efisien, cepat dan murah. Di sini investor tidak lagi perlu untuk mendaftarkan lembar saham yang dimiliki. Semua transaksi terjadi secara elektronis dan tidak secara manual. Dengan sistem ini, tanpa adanya penyerahan fisik sertifikat saham, tidak ada lagi risiko pemalsuan saham. Proses penyelesaian transaksi dalam sistem Scripless trading, hanya dilakukan pemindahbukuan antarrekening.Demikianlah ulasan kami untuk hari ini. Semoga penjelasan kali ini cukup memberikan atau menambah informasi Anda untuk memulai berinvestasi di pasar modal. N


Ekspektasi atau motivasi setiap investor adalah mendapatkan keuntungan dari transaksi investasi yang mereka la-kukan. Para investor yang bermain di pasar modal, khususnya saham, pasti memiliki motivasi yang sama pula, yaitu mendapatkan keuntungan. Bermain saham memiliki potensi keuntungan dalam 2 (dua) hal, pertama, pembagian deviden dan kenaikan harga saham (capital gain). Dividen merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada semua pemegang saham. Biasanya dilakukan satu tahun sekali. Bentuk dari diveden itu sendiri, bisa berupa uang tunai ataupun bentuk penambahan saham. Sedangkan capital gain, didapat berdasarkan selisih harga jual saham dengan harga beli. Di mana keuntungan didapat bila harga jual saham lebih tinggi dari harga beli saham. Ini hanyalah sepotong dari keseluruhan bentuk investasi saham. Satu hal penting lain yang harus dipertimbangkan adalah ketidakpastian alias risiko. Karena investasi tidak akan terlepas dari pendapatan dan risiko. Hukum investasi yang tidak dapat dipungkiri adalah semakin tinggi ekspektasi pendapatan akan semakin tinggi pula risiko yang harus Anda ambil. Oleh karena mengenali tingkat toleransi Anda terhadap risiko akan memberikan masukan penting bagi Anda, apakah jenis investasi ini sesuai dengan apa yang Anda inginkan?Tidaklah gampang untuk memutuskan saham mana yang akan Anda pilih dari sekian banyak saham yang tercatat (listing) di pasar modal. Sebelum Anda terjun, ikut ambil bagian dalam investasi di pasar modal khususnya saham, ada beberapa faktor penting yang menurut hemat kami harus Anda pertimbangkan sebagai investor.Expected Rate of Return;E(r))Dalam hal ini, E(r) bergantung terhadap tiga hal, yaitu harga pembelian, deviden dan kenaikan harga. Hal ini karena, potensi pendapatan atau keuntungan dari bermaian saham didapt dari dua jenis pendapatan yaitu, deviden dan capital gain. Sebagin contoh, bila seorang investor membeli saham PT. A seharga Rp 5.000/lembar sahamnya seba-nyak 2 lot (1000 lembar saham) maka total investasinya sebanyak Rp.5 juta. Diharapkan tahun depan, perusahaan A akan membagikan dividen sebesar Rp 200/ lembar sahamnya dan pada saat itu harga dari saham mengalami kenaikan sampai harga Rp.5.600. Sehingga E(r) investor tersebut adalah sebesar 16 persen/tahun [(5600+200-5000)/5000)].Ekspektasi tingkat pengembalian dapat diukur dan diperhitungkan dengan adanya horizon waktu yang telah ditetapkan. Dikaitkan dengan perencanaan investasi yang akan seharusnya Anda lakukan, penetapan horizon waktu harus disesuaikan dengan jangka waktu pencapaian tujuan keuangan yang Anda dan keluarga inginkan.Risiko Risiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, karena bisa saja, harga saham yang diharapkan naik malah mengalami penurunan atau Anda mengharapkan perusahaan akan beroperasi dengan baik dan mendapatkan keuntungan ternyata malah mengalami kerugian yang berakibat perusahaan harus memutuskan untuk tidak memberikan deviden kepada para pemegang sahamnya. Dalam mengambil keputusan untuk bertransaksi di saham, investor sebaiknya juga mempertimbangkan tingkat toleransi mereka terhadap risiko. Jangan sampai bermain saham membuat Anda tidak bisa tidur dan stres. Seorang investor dapat dikatakan risk averse (menghindari risiko) di mana mereka hanya mau mengambil investasi tanpa risiko atau risk-free investment. Sedangkan risk neutral (tidak mempertimbangkan risiko) adalah kelopok investor yang melihat investasi dengan risiko tinggi hanya sebatas ekspektasi tingkat pengembaliannya. Yang terakhir adalah risk lover (menyukai risiko). Investor kelompok ini adalah mereka yang suka dengan risiko, di mana mengambil investasi dengan tingkat risiko tinggi juga karena kesenangan mereka terhadap risiko.Jadi perlu adanya pertimbangan dalam menentukan tingkat toleransi Anda terhadap risiko agar Anda dapat memilih atau menentukan perimbangan yang optimal dari ekpekasi tingkat pengembalian dengan risiko dalam bertransaksi saham.Menentukan tingkat toleransi Anda terhadap risiko dipengaruhi oleh banyak hal seperti usia, tingkat pendapatan, lingkungan di mana Anda dibesarkan, jangka waktu investasi, keadaan psikologis Anda dan masih banyak lagi. Bila secara keuangan Anda sudah mapan, di mana investasi yang Anda lakukan di saham tidak akan banyak mempengaruhi keadaan keuangan keluarga Anda maka secara mudah akan mengambil risiko yang tinggi. Tapi bila investasi yang Anda lakukan pada instrumen saham sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi keuangan Anda dana keluarga khsususnya untuk jangka panjang, maka Anda cenderung berhati-hati dalam menentukan risiko yang akan diambil.Premi Risiko (Pr)Premi risiko adalah besarnya tambahan tingkat pengembalin yang diharapkan investor, sebagai kompensasi atas kesanggupan untuk menanggung risiko yang lebih besar. Secara matematis Pr merupakan selisih dari E(r) dengan suku bunga bebas risiko (rf). Tingkat suku bunga SBI atau deposito bisa menjadi pendekatan terhadap angka rf. Misalkan rf adalah sebesar 10 persen/tahun (berdasarkan tingkat suku bunga deposito) dan E(r) dari investor adalah 15 persen/tahun, sehingga investor mengharapkan nilai kompensasi sebesar 5 persen untuk risiko yang harus ditanggung. Logikanya, investor tidak akan membeli saham bila E(r)nya £ rf, karena akan lebih aman menempatkan dana dalam bentuk deposito yang memberikan tingkat pengembalian yang pasti (tanpa risiko).Pendapatan Dalam uraian di awal pembahasan telah diberikan bahwa terdapat 2 (dua) potensi keuntungan dalam bermain saham, yaitu deviden dan capital gain. Melihat potensi keuntungan yang bisa didapat, bila Anda melihat jangka waktu yang panjang, saham dengan dividend yield—dividen atau saham dibagi harga 1 lembar saham di pasar—tinggi dapat menjadi alternatif pilihan. Di mana Anda akan memegang saham tersebut untuk mendapatkan keuntungan dividen yang regular setiap tahun. Sedangkan untuk investor yang tidak mengharapkan deviden dalam jangka waktu pendek, memilih saham perusahaan yang tingkat pertumbuhan labanya tinggi (growth stock). Perusahaan sejenis ini biasanya tidak membagikan deviden atau memberikan deviden dalam jumlah kecil dan sebagian besar keuntungan perusahaan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan. Dalam jangka waktu panjang, investor diharapkan akan mendapatkan keuntungan atau pendapatan dalam bentuk kenaikan harga saham.Bila Anda melihat atau memperhatikan Bursa Efek Jakarta, maka Anda akan mendapatkan sebagian besar dari investor individu yang bermain di sana hanyalah investor jangka pendek. Perusahaan sekuritas atau dana pensiun akan lebih melihat portofolio sahamnya dalam jangka waktu yang lebih panjang. Tetapi sayangnya dengan keadaan pasar modal saat ini yang kurang bergairah, membuat banyak investor, baik individu maupun institusi menunda waktunya untuk mengalokasikan atau menginvestasikan dananya di bursa saham. Semakin hari total volume transaksi di bursa efek kian tipis. Hal ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain keadaan ekonomi atau politik di Indonesia yang masih kurang kondusif.Pajak Setiap keuntungan atau pendapatan dari berbagai jenis investasi akan selalu dibebani oleh pajak. Demikian pula dengan investasi saham. pendapatan Anda dari deviden pasti dikenai pajak, demikian juga dengan pendapatan dari capital gain. Perbedaannya, pajak dari capital gain baru dikenakan jika investor memperoleh keuntungan dari penjualan sahan yang dimilikinya. Hal ini mengapa perlu dipertimbangkan karena pajak bisa sangat mempengaruhi keuntungan yang potensial untuk Anda peroleh.Sendi dasar dari semua bentuk investasi adalah adanya aturan main yang jelas dan transparan. Dalam bermain saham, para investor juga sangat mengharapkan bahwa bursa yang ada juga memberikan semua ini kepada mereka, sehingga para investor yang bermain di bursa tidak merasa dirugikan. Aturan, baik aturan pajak maupun aturan main para member Bursa harus dipegang teguh, sehingga memberikan nilai tambah kepada pasar itu sendiri. Yang pada akhirnya akan menarik investor untuk turut berpartisipasi dalam transaksi di Bursa khususnya saham.Biaya Transaksi Melakukan jual beli di bursa saham tidaklah gratis, investor dalam hal ini harus membayar biaya transaksi. Besarnya biaya transaksi sekitar 0,033 persen dari total biaya pembelian saham. Biaya transaksi lain adalah komisi, di mana besarnya bergantung dengan perusahaan pialang Anda, kisaran besarnya biaya komisi adalah 0.2 persen dari total harga pembelian saham. Hal ini karena perdagangan di bursa menggunakan jasa pialang (broker).Sebelum melakukan perdagangan di bursa saham maka sebaiknya Anda mengetahui berbagai biaya yang harus Anda keluarkan setiap kali Anda melakukan perdagangan atau jual beli saham. Sehingga hal ini tidak membuat Anda bingung dan merasa dirugikan di kemudian hari.Kondisi Keuangan AndaKondisi keuangan keluarga saat ini, yang menurut hemat kami perlu menjadi pertimbangan paling awal sebelum Anda memutuskan untuk bermain saham di Bursa. Bila Anda ingin ikut bertransaksi saham maka sebaiknya Anda sudah menganggarkan dana memang untuk investasi ini. Kebutuhan akan dana darurat atau pos dana untuk emergency fund harus dialokasikan terlebih dahulu. Jangan Anda menggunakan dana ini untuk berinvestasi. Karena kebutuhan yang tidak terduga, penempatan dalam investasi yang likuid menjadi prioritas.Melakukan transaksi saham sebaiknya dilakukan bila keadaan keuangan keluarga Anda sudah cukup mapan. Mapan di sini diartikan sebagai keadaan di mana Anda memiliki dana yang cukup besar untuk turut berinvestasi di Bursa saham. Jadi berinvestasi dalam Bursa saham jangan sampai malah merusak tatanan keuangan keluarga yang telah Anda bangun bersama selama ini.Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah waktu yang Anda miliki untuk mengikuti perubahan atau analisa untuk membeli saham tertentu. Bila waktu Anda terbatas maka sebaiknya Anda mencoba dulu untuk bermain di Reksadana saham. Dengan bertransaksi Reksadana pengelolaan dana Anda serahkan kepada menejer investasi profesional. Jadi banyak faktor yang perlu Anda pertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum Anda terjun ke dalam Bursa saham. Faktor-faktor di atas merupakan gambaran kasar dari seluk beluk investasi saham. Masih banyak ilmu yang harus ditimba, sehingga Anda mendapatkan keseimbangan komposisi tingkat pengembalian dengan risiko yang terkandung. Semoga pembahasan singkat ini memberikan masukan dan tambahan bahan pertimbangan agar Anda dapat mengambil keputusan terbaik bagi keuangan atau investasi yang Anda lakukan.




Ada dua cara untuk berinvestasi di pasar modal, yaitu:
1. Melalui Pasar Primer
Sebagian orang menyebut ini sebagai Pasar Perdana. Ini adalah saat dimana perusahaan pertama kali menjual sahamnya kepada masyarakat. Ini disebut juga dengan istilah Initial Public Offering (IPO) atau Go Public. Mereka biasanya mengumumkan penjualan tersebut di berbagai media cetak berskala nasional dalam bentuk Prospektus. Nah, Anda disini bisa membelinya secara langsung..
Kemana membelinya? Nah, ini dia: Prospektus yang terdapat di berbagai Media Cetak tersebut biasanya juga mencantumkan alamat dan syarat-syarat yang diperlukan untuk bisa membeli saham perusahaan tersebut. Anda tinggal datang ke alamat tersebut dan bisa membelinya langsung disana. Tetapi harap diketahui bahwa biasanya ada jangka waktu tertentu dalam penjualan saham di Pasar Perdana. Jadi Anda harus mengetahui kapan batas waktu pembelian saham di Pasar Perdana itu habis.
Sekarang, kapan Anda bisa mengetahui kalau ada perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan IPO? Jawabannya cuma satu: dari media cetak. Walaupun Anda juga bisa mengetahuinya dari televisi (seperti di Metro TV misalnya), tapi jangkauan siar TV tersebut mungkin belum tentu sampai di kota Anda di Denpasar. Jadi yang paling mudah, lewat koran saja. Pilih Media Cetak yang berskala nasional, karena disitulah kebanyakan perusahaan-perusahaan yang akan Go Public mengumumkan penjualan sahamnya.
2. Melalui Pasar Sekunder
Setelah Jangka Waktu IPO selesai, seseorang yang ingin memiliki saham harus membelinya dari orang lain. Jadi, ini sebetulnya adalah transaksi dari investor ke investor. Bukan dari perusahaan ke investor seperti yang terjadi pada Pasar Perdana.
Nah, proses transaksi jual beli saham dari investor ke investor ini disebut transaksi di Pasar Sekunder, dan transaksi ini harus dilakukan di sebuah tempat khusus yang bernama Bursa Efek. Di Bursa Efek inilah transaksi saham antar investor satu ke investor lain dilakukan. Ada dua bursa efek yang saat ini ada di Indonesia, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan Bursa Efek Surabaya (BES).
Transaksi jual beli saham di Bursa Efek dilakukan oleh sebuah perusahaan perantara atau pialang. Jadi sebagai investor, Anda bisa membeli saham melalui jasa pialang, dimana nanti Anda juga harus membayar semacam fee kepada pialang tersebut sebagai ‘honor’ mereka.
Untuk itu, Anda biasanya harus menjadi nasabah terlebih dahulu dari sebuah perusahaan pialang, dimana Anda akan diminta untuk mendepositokan sejumlah uang yang besarnya berbeda-beda untuk setiap perusahaan pialang. Daftar nama pialang bisa Anda lihat di BEJ atau www.jsx.co.id. Tentu saja, karena lokasi Anda di Denpasar, carilah perusahaan pialang yang memberikan fasilitas kemudahan untuk Anda dalam memberikan perintah jual beli saham dari tempat Anda di Denpasar. Selamat berinvestasi.

















Belajar Investasi Saham: Mulai dengan Simulasi
Untuk menjadi investor di pasar modal tidak perlu ragu untuk memulai, sebab tidak seluruh produk investasi di industri ini membutuhkan dana yang besar. Dari hari ke hari investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya kian murah saja, menyusul kian variatifnya produk efek di pasar modal yang bisa dijadikan sasaran investasi.Mau investasi murah, bisa memilih reksa dana sebagai pilihan. Produk reksa dana yang ditawarkan saat ini juga kian berkembang, dan disesuaikan dengan tujuan dari investasi investor. Jadi dalam reksa dana investor tinggal mencocokkan saja tujuan investasinya. Mau yang berpendapatan tetap, maka investor tinggal membeli reksa dana fixed income atau yang berpendapatan tetap. Sedangkan apabila mau investasi saham maka tinggal memilih membeli reksa dana yang yang diinvestasikan pada reksa dana saham, atau mau yang campuran saham dan fixed income juga ada.Pendek kata kini tidak ada alasan lagi bagi investor untuk menunda investasinya di pasar modal. Praktis kini tersedia banyak pilihan investasi dari yang ingin berinvestasi langsung, maupun tidak langsung sebagaimana yang ditawarkan reksa dana tersebut.Kalau seorang investor yang merasa hasil yang diperoleh reksa dana tidak sesuai dengan harapan, lalu berkeinginan untuk investasi langsung juga bisa dilakukan. Caranya investor tersebut terlebih dulu membuka rekening efek di perusahaan efek yang dipilih menjadi wakilnya di bursa saham. Selain diharuskan membuka rekening efek, investor juga harus membuka rekening dana. Pembukaan rekening ini menjadi syarat mutlak bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal. Pembukaan rekening biasanya diikuti dengan penyetoran sejumlah dana tertentu.Setelah melakukan penyetoran berarti investor sudah resmi menjadi nasabah di perusahaan efek tersebut. Itu berarti ia sudah bisa memerintahkan broker via dealer di kantor perusahaan efek itu untuk membeli saham. Pendeknya sudah bisa aktif bertransaksi. Kalau juga masih ragu meski sudah membuka rekening tapi masih belum juga bertansaksi, investor juga tidak perlu malu untuk mempelajari terlebih dulu saham yang menjadi incaran.Caranya sudah barang tentu dengan mengamati karakteristik dan pergerakan saham tersebut. Untuk mempelajari saham tersebut juga tidak perlu terburu-buru. Sebagai investor pemula mempelajari pergerakan saham tertentu bisa dimulai dengan karakteristik industrinya, lalu harga tertinggi dan terendahnya, kemudian bisa juga diikuti dengan pihak yang banyak melakukan pembelian.Apakah investor asing atau lokal, kalau investor asing yang perlu dicermati pada kondisi bagaimana ia melakukan pembelian dan pada kondisi seperti apa ia melakukan penjualan. Aspek teknikal dan fundamental perlu menjadi perhatian.Terkait dengan pembelajaran karakteristik industri dan karakteristik saham ini, juga tidak salah kalau investor melakukan sedikit riset dan analisa atas saham-saham itu, utamanya jika dihubungan dengan isu yang tengah berkembang di masyarakat. Ada saham yang mengalami aktivitas tinggi ketika di tengah pasar tengah rendah, begitu juga sebaliknya.Struktur industri dan sektor dari saham tersebut juga merupakan pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum memilih saham. Karena itu, bagi investor pemula untuk mengamati terlebih dulu karakteristik saham yang akan dibeli sangat dianjurkan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang investor agar investasi bisa memperoleh hasil optimal.Pertama, investor bisa mempelajari dari alat perdagangan yang digunakan pada perusahaan efek tersebut, atau melalui data yang ditampilkan dalam data real time. Dengan menggunakan data real time, investor bisa membuka data-data yang tersedia. Harga saham yang terjadi di masa lalu juga tersedia, mulai dari jumlah saham (volume), porsi kepemilikannya termasuk data mengenai kapan perusahaan itu go public lalu corporate action apa saja yang pernah dilakukan hingga ke jajaran manajemen dan pemegang saham perusahaan tersebut juga tersedia.Kedua, dengan data yang relatif lengkap mengenai perjalanan sebuah saham di Bursa, memberikan peluang bagi investor untuk melihat atau menentukan kapan saham tersebut aktivitasnya meninggi dan kapan aktivitasnya melemah. Cara kedua ini merupakan salah satu cara bagi investor dalam menganalisa secara teknikal pergerakan sebuah saham. Investor juga dapat menelaah faktor apa saja yang dapat mempengaruhi harga saham. Lewat volume saham investor dapat mengetahui berapa persen sebenarnya saham yang aktif diperdagangkan (float market), sehingga berapa besar supply, dan demand saham tersebut setiap hari bisa diprediksi.Dalam teknikal analisa ini komponen utamanya adalah pergerakan harga saham dari hari ke hari (termasuk performance di masa lalu) penting untuk dicermati. Di samping itu kondisi sosial politik dan ekonomi pada setiap harga saham juga perlu diamati, termasuk masalah peraturan dan kebijaksaaan yang diberikan pemerintah dan manajemen perusahaan tersebut. Adalah sangat lazim begitu pemerintah menaikkan pajak CPO, misalnya, maka akan berpengaruh pada harga saham yang memproduksi CPO. Atau begitu pemerintah menurunkan tingkat suku bunga maka akan boleh jadi saham perbankan akan sedikit mengalami koreksi. Contoh yang lebih kongkrit lagi, apabila tekanan inflasi demikian kuat maka pasar saham dipastikan akan melemah karena dana-dana yang ada akan masuk ke sistem perbankan, dan pada kondisi ini harga saham perbankan boleh jadi akan naik.Mock TradingBeberapa langkah di atas merupakan salah satu contoh yang bisa dilakukan seorang investor pemula sebelum memulai invetasinya di pasar modal. Pertanyaannya apakah hanya langkah-langkah tersebut yang bisa dilakukan? Atau hanya langkah itu yang paling jitu dalam berinvestasi di pasar modal? Jawabnya sudah pasti tidak. Banyak langkah yang bisa dilakukan sebelum seseorang untuk memulai investasinya di pasar modal.Di pasar modal Indonesia mulai merebak sejak 1977 lalu, yang kemudian digarap serius setelah Bapepam ketika itu membentuk Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Jakarta, hampir seluruh broker wajib mengikuti pendidikan mengenai pasar modal ini. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan setelah mengikuti pendidikan teori adalah simulasi atau yang popular disebut dengan mock trading. Kala itu masing-masing broker yang mengikuti pendidikan itu seolah-olah diberi modal untuk berinvestasi saham serta diberikan pula sejumlah saham tertentu dengan nilai yang sama antara peserta yang satu dengan peserta lainnya. Acuan dari pergerakan harga sahamnya adalah pasar sebenarnya (artinya harga pasar yang terjadi di Bursa).Dalam mock trading ini masing-masing peserta diminta untuk membeli saham-saham yang dianggapnya bagus, dalam kurun waktu tertentu, dan pada hari yang telah ditetapkan apakah harga saham yang dibeli mengalami kenaikan atau tidak dengan acuannya adalah harga pasar yang terjadi pada hari itu. Dari simulasi (mock trading) tersebut dapat diketahui apakah dana yang diberikan berkembang atau tidak. Jadi dalam hal ini ada dua perhitungan dana yang berkembang menjadi saham, atau dana yang diperoleh dari capital gain yang merupakan hasil kemahiran peserta pendidikan dalam mengelola saham yang dimilikinya. Jadi dalam mock trading ini ada dua langkah yang harus dikelola seorang calon investor itu, yakni mengembangkan modal serta mengembangkan jumlah saham yang diberikan oleh pengajar. Jadi berpedoman pada simulasi tersebut seorang investor pemula yang akan berinvestasi saham tidak ada salahnya meniru cara belajar mengenal pasar dan karakteristik saham model tersebut. Butuh waktu memang, tapi dengan likuiditas pasar yang cukup tinggi seperti sekarang ini waktu yang digunakan bisa dipersingkat, misalnya dalam sepekan perdagangan saja, dengan saham yang dipelajari cukup saham-saham yang menjadi incaran saja. Investor juga tidak perlu malu dan ragu untuk melakukan mock trading ini, sebab hampir pasti perusahaan broker terbuka apalagi bila belajar pada perusahaan dimana investor telah membuka rekening. Jadi tidak ada salahnya untuk dicoba, sehingga sebagai investor makin kenal dan mengetahui akan karakteristik saham yang menjadi pilihan portofolionya itu. Selamat mencoba.(TIM BEI)

Lebih Dalam Tentang Saham

Semua strategi keuangan, termasuk tunai dan properti dipengaruhi oleh apa yang terjadi di pasar modal. Pasar modal adalah penentu arah ekonomi dunia.
Perusahaan bisa mendapatkan modal dari bank atau pemberi pinjaman lain. Tapi modal yang berasal dari kepemilikan saham lebih disukai karena begitu saham dikeluarkan dan dibayar oleh investor awal, uang itu menjadi milik perusahaan selamanya. Perusahaan tidak perlu membayar kembali, tidak ada bunga, juga tidak ada kewajiban untuk membayar dividen. Tentunya baik bagi perusahaan tersebut untuk membayar dividen dua kali setahun, tapi tidak ada keharusan.
Proses perusahaan masuk bursa saham (IPO) sangat kompleks dan makan biaya, melibatkan ahli hukum, akuntan, investment bankers, spesialis relasi publik. Sebagai calon investor, Anda bisa mendapatkan dokumentasi yang disebut prospektus yang berisi :
· Detil tentang perusahaan, berikut kinerja masa lalu dan prospek ke depan, termasuk proyeksi keuntungan.
· Laporan keuangan lengkap.
· Rekam jejak para direksi dan komisaris.
· Paket remunerasi dari direksi dan komisaris.
· Para penasehat yang terlibat dalam proses IPO.

Membeli saham lewat IPO biasanya lebih murah, karena umumnya perusahaan menaruh harga dibawah harga sebenarnya. Hal ini dilakukan agar segera terjadi kenaikan pada hari pertama penjualan di bursa saham yang memberikan image positif. Selain itu biasanya perusahaan memilih waktu ketika kondisi perusahaannya baik untuk IPO.
Perusahaan yang sudah IPO bisa mengeluarkan lebih banyak saham kemudian, proses ini disebut right issue, yang memberikan hak pada para pemegang saham terdaftar untuk membeli saham dengan rasio tertentu terhadap jumlah saham yang telah dimilikinya saat ini.
Faktor Fundamental dalam Menganalisa Saham
Kebanyakan investor melihat faktor fundamental perusahaan sebelum melakukan investasi. Termasuk dalam faktor fundamental adalah keadaan ekonomi secara umum, tren di industri tertentu, tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang asing, kinerja perusahaan yang meliputi laporan keuangan, produk-produk yang dihasilkan, manajemen perusahaan serta banyak lagi faktor-faktor bisnis dan keuangan lain.

Kebanyakan faktor di pasar saham sifatnya relatif. Karenanya dalam menganalisa angka Anda harus membandingkannya dengan angka yang lain yang sejenis dan dalam kurun waktu yang sama. Misalnya saja apabila Anda melihat keuntungan suatu perusahaan 10 %, untuk tau apakah 10 % itu baik, rata-rata atau buruk, Anda perlu melihat kinerja industrinya secara umum serta keuntungan perusahaan pesaingnya. Jadi kalau rata-rata keuntungan perusahaan adalah 15 % dan pesaing utama perusahaan ini keuntungannya 20 %, maka saham Anda kinerjanya buruk.
Earning per Share (EPS)

Adalah angka yang lebih dulu dilihat oleh para investor, bukan laba perusahaan. Anda bisa menggunakan angka EPS untuk melihat apakah perusahaan mengalami kemajuan. Bisa saja perusahaan mengeluarkan banyak saham baru untuk membeli perusahaan lain, sehingga labanya meningkat tajam. Tetapi apabila dibagi dengan jumlah saham yang lebih banyak itu, maka EPS nya bisa jadi malah turun. Angka EPS ini juga tepat untuk mengukur laba yang berkaitan dengan pemegang saham, karena angka yang digunakan adalah angka laba sesudah dipotong pajak.
Apakah Price Earnings Ratio?

EPS membantu anda membandingkan kinerja satu perusahaan dari tahun ke tahun, tapi tidak untuk menilai satu perusahaan dibanding lainnya.
Membagi earning dengan harga saham menghasilkan angka p/e (price earnings ratio). Angka ini biasanya dipakai untuk melihat apakah harga saham baik nilainya. Angka ini menggambarkan keuntungan bersih berapa tahun (berdasarkan nilai terakhir) yang dibutuhkan untuk menyamai harga saham.

Jadi bila ada 2 perusahaan yang mempunyai prospek yang sama, maka perusahaan dengan nilai p/e yang lebih rendah lebih baik.

Bagaimana Menggunakan p/e ?
· Membandingkan harga saham beberapa perusahan yang memiliki prospek yang sama.
· Melihat mana perusahaan-perusahaan yang dipandang akan berkembang. Perusahaan yang berkembang memiliki p/e yang lebih tinggi.
· Menentukan apakah kini waktu yang tepat untuk menjual. Beberapa investor menjual sahamnya apabila p/e nya sudah sekian persen diatas rata-rata.
· Melihat saham-saham mana yang sudah tertinggal. Angka p/e yang rendah menunjukan investor sudah meninggalkan saham tersebut.
Analisa Teknikal
Cukup banyak investor yang merasa melihat faktor fundamental sebagai buang-buang waktu. Para investor ini berpandangan, harga akan naik apabila jumlah pembeli saham lebih banyak dari penjual. Jadi mereka lebih melihat analisa teknikal, yaitu melihat pergerakan harga saham, mencatat naik dan turun dan melihat pola. Teorinya, pasar berubah atas dasar harapan dan intuisi para pemain. Para peng-analisa diagram percaya bahwa diagram pergerakan harga saham menunjukkan emosi manusiawi dari para investor seperti serakah, takut, panik dan optimis.
Berikut ini adalah beberapa metoda analisa teknikal yang biasa digunakan.
Relative Strength Index (RSI)
RSI membandingkan besarnya penguatan dan pelemahan harga saham untuk bisa menilai keadaan “overbought” atau “oversold”. RSI dihitung dengan formula :
RSI = 100 – 100/1+RS
Dimana RS adalah rata-rata harga menguat dibagi rata-rata harga melemah dalam suatu kurun waktu. Nilai RSI ada pada kisaran 1 dan 100. Suatu saham dianggap “over bought” apabila nilai RSI nya mendekati 70 dan dianggap “over sold” bila nilainya mendekati 30. Untuk informasi lebih lengkap tentang RSI dapat dilihat di http://www.investopedia.com/terms/r/rsi.asp
Stochastic Oscillator
Adalah sebuah alat analisa yang dikembangkan pertama kali oleh George C. Lane pada akhir 1950-an. Analisa ini membandingkan posisi penutupan saham pada saat ini terhadap rentang harga batas atas dan batas bawah selama perioda yang telah ditetapkan. Beberapa informasi yang di hasilkan dari analisa stochastic oscillator ini adalah :
-Informasi overbought/oversold
-Indikasi perubahan momentum apabila terjadi crossing
-Divergence positif dan divergence negatif.
Moving Average
Merupakan salah satu indikator yang paling populer dan sederhana, karena sangat mudah mengimplementasikannya dalam sebuah analisa. Moving average adalah pergerakan harga rata-rata suatu saham dalam kurun waktu tertentu. Ada banyak variasi aplikasi metode rata-rata bergerak yang digunakan dalam analisa teknikal, antara lain Simple Moving Average, Weighted Moving Average, Exponential Moving Average. Penggunaan ketiga alat indikator tersebut sama saja, hanya tingkat sensitifitasnya yang berbeda.


Beberapa aturan umum dalam analisa menggunakan indikator moving average:
MA > Data Aktual berarti signal bearish, harga akan turun
MA <>signal bullish, harga akan naik
MA Pendek > MA Panjang berarti signal bullish, harga akan naik
MA Pendek <>signal bearish, harga akan turun
Titik Potong antara MA berarti signal reversal, harga akan berbalik arah
Fasilitas yang Diperoleh Para Pemegang Saham
Setiap saham biasa mempunyai hak yang sama. Pada rapat umum pemegang saham, satu saham mendapatkan satu suara. Sebagai pemegang saham Anda dapat menghadiri Rapat Umum Pemegang Sahap (RUPS) tahunan dan RUPS luar biasa. Dalam RUPS Anda punya hak untuk bertanya pada direksi dan komisaris.
Kebanyakan perusahaan membagikan dividen dua kali dalam setahun. Para pemegang saham punya hak untuk memberikan suara tentang jumlah dividen dalam RUPS tahunan, tapi pada umumnya pemegang saham menerima jumlah dividen yang ditetapkan oleh para pengurus perusahaan. Pada saat dividen diumumkan, perusahaan menetapkan tanggal pembayaran dividen pada para pemengang saham yang terdaftar pada saat itu. Investor yang membeli saham sesudah tanggal pengumuman itu harus menunggu sampai perioda berikutnya untuk mendapatkan dividen.
Investasi Saham Melalui Reksadana
Reksadana Saham adalah cara alternatif untuk berinvestasi di pasar saham. Cara ini sangat praktis terutama bagi para investor kecil dan bagi mereka yang tidak punya banyak waktu dan ketrampilan untuk menganalisa saham. Reksadana dirancang sebagai alat untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang memiliki modal dan keingingan untuk berinvestasi, tapi memiliki keterbatasan waktu dan pengetahuan. Dana yang telah terkumpul di kelola investasinya oleh Investment Manager. Reksadana saham adalah reksadana yang menginvestasikan paling tidak 80% dari dana yang terkumpul di saham.
Beberapa manfaat dari reksadana adalah :
· Investor dengan dana kecil tetap dapat melakukan diversifikasi pada berbagai jenis investasi. Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi resiko.
· Membantu memudahkan investor berinvestasi di pasar modal. Menentukan saham mana yang sebaiknya di beli tidak mudah, dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman.
· Efisiensi waktu, karena dana yang diinvestasikan di reksadana di kelola oleh seorang manager investasi yang profesional, sehingga investor tidak perlu memonitor kinerja investasinya setiap saat.

· Reksadana Saham memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan jenis reksadana yang lain, akan tetapi reksadana ini juga memberikan nilai keuntungan yang lebih besar.

Apa keuntungan dan Resiko berinvestasi di saham ?
Pada dasarnya semua pilihan investasi mengandung peluang keuntungan di satu sisi dan potensi kerugian atau resiko di sisi lain. Seperti tabungan dan deposito di Bank memiliki resiko kecil karena tersimpan aman di bank, tetapi kekurangannya keuntungan yang lebih sedikit dibanding potensi keuntungan dari saham. Investasi di properti (rumah dan tanah) semakin lam harganya semakin tinggi, tetapi juga beresiko apabila tergusur atau terjadi kebakaran, usaha sendiri (wiraswasta) beresiko bangkrut / pailit sementara investasi di emas memiliki resiko harga turun.
Khusus untuk saham, peluang keuntungan dan resiko yang mungkin timbul antara lain :
Keuntungan :
Capital GainYaitu keuntungan dari hasil jual beli saham berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli saham. Misalnya sewaktu membeli nilainya Rp. 2.000 / saham dan kemudian dijual dengan harga Rp. 2.500. Jadi selisih yang sebesar Rp. 500 ini disebut Capital Gain.
Saham adalah surat berharga yang paling populer diantara surat berharga lainnya di pasar modal, Kenapa ? Karena bila dibandingkan investasi lainnya saham memungkinkan pemodal untuk mendapatkan return atau keuntungan yang lebih besar dalam waktu relatif singkat ( high return ).
Selain high return, saham juga memiliki sifat high risk yaitu suatu ketika harga saham dapat juga melorot secara cepat, atau sahamnya di de-list (dihapuskan) dari bursa sehingga untuk jual-belinya harus mencari pembeli / penjual sendiri dan tidak memiliki harga patokan pasar. Dengan karakteristik high risk return ini maka pemodal perlu terus memantau pergerakan harga saham yang dipegangnya, agar keputusan yang tepat dapat dihasilkan dalam waktu yang tepat pula.
DividenMerupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Biasanya tidak seluruh keuntungan prusahaan dibagikan kepada pemegang saham, tetapi ada bagian yang ditanam kembali. Besarnya dividen yang anda terima ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan tersebut. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa perusahaan tidak selalu membagikan dividen kepada para pemegang saham tetapi tergantung kepada kondisi perusahaan itu sendiri (khususnya berkaitan dengan keuntungan yang diraih) ; artinya jika perusahaan mengalami kerugian tentu saja dividen tidak akan dibagikan pada tahun berjalan tersebut.
Resiko / kerugian
Capital LossMerupakan kebalikan dari capital gain, yaitu suatu kondisi dimana Anda menjual saham yang anda miliki dibawah harga belinya. Misalnya saham PT. Kupetemu Anda beli dengan harga Rp. 2000/saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400/saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, maka Anda kemudian menjual pada harga tersebut sehingga Anda mengalami kerugian sebesar Rp 600 per saham.Itulah capital loss yang menimpa Anda.
Resiko Likuidasi Perusahaan yang sahamnya dimiliki dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan atau perusahaan tersebut dilikuidir. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh apa-apa. Ini merupakan resiko yang terberat dari seorang pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus-menerus mengikuti perkembangan dari perusahaan yang sahamnya dimiliki.
Seperti pasar lainnya, Bursa Efek merupakan sebuah pasar yang terorganisasi dan tempat dimana para pialang melakukan transaksi jualbeli surat berharga dengan berbagai perangkat aturan yang ditetapkan di Bursa Efek tersebut.
Apabila kita ambil perumpamaan, Bursa Efek ibaratnya seperti PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar dimana kios-kiosnya disewakan kepada pedagang. Pedagang disini adalah broker atau perusahaan efek. Sementara pembelinya disebut investor atau pemodal.
Jadi pembeli tidak berhubungan dengan PD Pasar Jaya, tetapi berhubungan langsung dengan pedagang. Yang berhubungan dengan PD Pasar Jaya adalah para pedagang yang menempati kios tersebut.
Pada dasarnya, jika Anda ingin melakukan pembelian maupun penjualan saham maka Anda harus berhubungan dengan perusahaan efek atau biasa disebut broker atau perusahaan pialang yang menjadi Anggota Bursa. Perusahaan efek ini memiliki wakilnya di Bursa Efek yang disebut pialang. Pialang tersebutlah yang akan melakukan transaksi atas dasar order/amanat yang Anda berikan baik untuk jual maupun untuk beli. Pialang tersebut dapat juga memberikan anjuran atau berbagai nasihat lainnya sehubungan dengan rencana investasi Anda. Atas jasanya itu maka Anda wajib membayar biaya komisi kepada pialang.
Berapa dana minimal untuk berinvestasi ?
Pada dasarnya tidak ada batasan minimal dana dan jumlahnya untuk membeli saham. Dalam perdagangan saham, jumlah yang dijualbelikan dilakukan dalam satuan perdagangan yang disebut lot. Di Bursa Efek Jakarta, satu lot berarti 500 saham (untuk saham non-perbankan) dan 5000 saham (untuk saham perbankan). Itulah batas minimal pembelian saham. Lalu dana yang dibutuhkan menjadi bervariasi karena beragamnya harga saham-saham yang tercatat di Bursa. Misalnya harga saham XYZ Rp. 1.000,- maka dana minimal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot saham tersebut menjadi (500 dikali Rp 1.000) sejumlah Rp. 500.000. Sebagai ilustrasi lain,jika saham ABC harga per sahamnya Rp 2.500 maka dana minimal untuk membeli saham tersebut (500 dikali Rp. 2.500) sebesar Rp. 1.250.000.
Bagaimana Menjadi Nasabah Perusahaan Efek (Pembukaan Rekening Nasabah) ?
Sebelum Anda melakukan jual-beli saham, seperti layaknya membuka rekening di bank maka terlebih dahulu Anda harus membuka rekening di satu atau beberapa Perusahaan Efek. Dengan pembukaan rekening tersebut maka secara resmi Anda telah tercatat sebagai nasabah dan data identitas anda tercatat dalam pembukuan Perusahaan Efek seperti Nama, Alamat, Nomor Rekening Bank dan data-data lain. Bersamaan dengan pembukaan rekening ini, Anda menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Efek yang menyangkut hak dan kewajiban kedua belah pihak.
Glossary




Apa keuntungan dan Resiko berinvestasi di saham ?
Pada dasarnya semua pilihan investasi mengandung peluang keuntungan di satu sisi dan potensi kerugian atau resiko di sisi lain. Seperti tabungan dan deposito di Bank memiliki resiko kecil karena tersimpan aman di bank, tetapi kekurangannya keuntungan yang lebih sedikit dibanding potensi keuntungan dari saham. Investasi di properti (rumah dan tanah) semakin lam harganya semakin tinggi, tetapi juga beresiko apabila tergusur atau terjadi kebakaran, usaha sendiri (wiraswasta) beresiko bangkrut / pailit sementara investasi di emas memiliki resiko harga turun.
Khusus untuk saham, peluang keuntungan dan resiko yang mungkin timbul antara lain :
Keuntungan :
Capital GainYaitu keuntungan dari hasil jual beli saham berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli saham. Misalnya sewaktu membeli nilainya Rp. 2.000 / saham dan kemudian dijual dengan harga Rp. 2.500. Jadi selisih yang sebesar Rp. 500 ini disebut Capital Gain.
Saham adalah surat berharga yang paling populer diantara surat berharga lainnya di pasar modal, Kenapa ? Karena bila dibandingkan investasi lainnya saham memungkinkan pemodal untuk mendapatkan return atau keuntungan yang lebih besar dalam waktu relatif singkat ( high return ).
Selain high return, saham juga memiliki sifat high risk yaitu suatu ketika harga saham dapat juga melorot secara cepat, atau sahamnya di de-list (dihapuskan) dari bursa sehingga untuk jual-belinya harus mencari pembeli / penjual sendiri dan tidak memiliki harga patokan pasar. Dengan karakteristik high risk return ini maka pemodal perlu terus memantau pergerakan harga saham yang dipegangnya, agar keputusan yang tepat dapat dihasilkan dalam waktu yang tepat pula.
DividenMerupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Biasanya tidak seluruh keuntungan prusahaan dibagikan kepada pemegang saham, tetapi ada bagian yang ditanam kembali. Besarnya dividen yang anda terima ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan tersebut. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa perusahaan tidak selalu membagikan dividen kepada para pemegang saham tetapi tergantung kepada kondisi perusahaan itu sendiri (khususnya berkaitan dengan keuntungan yang diraih) ; artinya jika perusahaan mengalami kerugian tentu saja dividen tidak akan dibagikan pada tahun berjalan tersebut.
Resiko / kerugian
Capital LossMerupakan kebalikan dari capital gain, yaitu suatu kondisi dimana Anda menjual saham yang anda miliki dibawah harga belinya. Misalnya saham PT. Kupetemu Anda beli dengan harga Rp. 2000/saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400/saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, maka Anda kemudian menjual pada harga tersebut sehingga Anda mengalami kerugian sebesar Rp 600 per saham.Itulah capital loss yang menimpa Anda.
Resiko Likuidasi Perusahaan yang sahamnya dimiliki dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan atau perusahaan tersebut dilikuidir. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh apa-apa. Ini merupakan resiko yang terberat dari seorang pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus-menerus mengikuti perkembangan dari perusahaan yang sahamnya dimiliki.

kembali


Bagaimana berinvestasi di Bursa Efek ?.
Seperti pasar lainnya, Bursa Efek merupakan sebuah pasar yang terorganisasi dan tempat dimana para pialang melakukan transaksi jualbeli surat berharga dengan berbagai perangkat aturan yang ditetapkan di Bursa Efek tersebut.
Apabila kita ambil perumpamaan, Bursa Efek ibaratnya seperti PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar dimana kios-kiosnya disewakan kepada pedagang. Pedagang disini adalah broker atau perusahaan efek. Sementara pembelinya disebut investor atau pemodal.
Jadi pembeli tidak berhubungan dengan PD Pasar Jaya, tetapi berhubungan langsung dengan pedagang. Yang berhubungan dengan PD Pasar Jaya adalah para pedagang yang menempati kios tersebut.
Pada dasarnya, jika Anda ingin melakukan pembelian maupun penjualan saham maka Anda harus berhubungan dengan perusahaan efek atau biasa disebut broker atau perusahaan pialang yang menjadi Anggota Bursa. Perusahaan efek ini memiliki wakilnya di Bursa Efek yang disebut pialang. Pialang tersebutlah yang akan melakukan transaksi atas dasar order/amanat yang Anda berikan baik untuk jual maupun untuk beli. Pialang tersebut dapat juga memberikan anjuran atau berbagai nasihat lainnya sehubungan dengan rencana investasi Anda. Atas jasanya itu maka Anda wajib membayar biaya komisi kepada pialang.

kembali


Berapa dana minimal untuk berinvestasi ?
Pada dasarnya tidak ada batasan minimal dana dan jumlahnya untuk membeli saham. Dalam perdagangan saham, jumlah yang dijualbelikan dilakukan dalam satuan perdagangan yang disebut lot. Di Bursa Efek Jakarta, satu lot berarti 500 saham (untuk saham non-perbankan) dan 5000 saham (untuk saham perbankan). Itulah batas minimal pembelian saham. Lalu dana yang dibutuhkan menjadi bervariasi karena beragamnya harga saham-saham yang tercatat di Bursa. Misalnya harga saham XYZ Rp. 1.000,- maka dana minimal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot saham tersebut menjadi (500 dikali Rp 1.000) sejumlah Rp. 500.000. Sebagai ilustrasi lain,jika saham ABC harga per sahamnya Rp 2.500 maka dana minimal untuk membeli saham tersebut (500 dikali Rp. 2.500) sebesar Rp. 1.250.000.

kembali


Bagaimana Menjadi Nasabah Perusahaan Efek (Pembukaan Rekening Nasabah) ?
Sebelum Anda melakukan jual-beli saham, seperti layaknya membuka rekening di bank maka terlebih dahulu Anda harus membuka rekening di satu atau beberapa Perusahaan Efek. Dengan pembukaan rekening tersebut maka secara resmi Anda telah tercatat sebagai nasabah dan data identitas anda tercatat dalam pembukuan Perusahaan Efek seperti Nama, Alamat, Nomor Rekening Bank dan data-data lain. Bersamaan dengan pembukaan rekening ini, Anda menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Efek yang menyangkut hak dan kewajiban kedua belah pihak.

kembali


Berapa biaya jual beli saham ?
Komponen dari biaya jual dan beli saham adalah sbb :Beli : Nilai pembelian saham + (komisi pialang + PPN 10%)Jual : Nilai penjualan saham + ( komisi pialang + PPN 10 % ) + pajak penjualan sebesar 0,1 % dari nilai penjualan.
Untuk pembelian dan penjualan saham, Anda harus membayar biaya komisi kepada pialang/broker yang telah melaksanakan pesanan Anda. Besarnya komisi diatur oleh Bursa. Di Bursa Efek Jakarta besarnya biaya komisi tersebut setinggi-tingginya adalah 1% dari nilai transaksi (jual atau beli). Artinya besarnya biaya komisi dapat dinegosiasikan dengan pialang/ broker dimana Anda melakukan jual-beli saham.
Sebagai ilustrasi, misalnya Anda melakukan pembelian saham dengan nilai transaksi sebesar Rp. 1 juta, dengan rincian sebagai berikut :
Keterangan

Nilai Uang (Rp)

Transaksi beli

1.000.000,-

Komisi 1 % dari nilai transaksi
10.000,-

PPN 10% dari Komisi
1.000,-

Total Biaya Transaksi Beli

11.000,-
(+)
Total Biaya Pembelian

1.011.000,-

Untuk pembelian saham tersebut Anda dibebankan biaya komisi maksimal sebesar 1 % dari nilai transakasi dan PPN sebesar 10 % dari komisi, sehingga total biaya sebesar Rp. 11.000,-
Keterangan

Nilai Uang (Rp)
Transaksi jual

1.000.000,-

Komisi 1 % dari nilai transaksi
10.000,-

PPN 10% dari Komisi
1.000,-

PPh atas transaksi jual



(0.1 % dari Nilai Transaksi)
1.000,-


Total Biaya Transaksi Beli

12.000,-
(+)
Total Biaya Pembelian

988.000,-

Ilustrasi selanjutnya, Anda misalnya menjual saham senilai Rp. 1.000.000.
Dengan demikian, untuk transaksi jual selain dibebankan komisi dan PPN, Anda juga dibebankan Pph atas transaksi jual yang besarnya 0,1 % dari nilai transaksi. Jadi untuk transaksi jual senilai Rp 1.000.000 maka biaya yang dikenakan sebesar Rp. 12.000 sehingga total uang yang Anda terima dari transaksi jual tersebut adalah Rp. 988.000.

Pada saat Anda melakukan pembelian saham dimana posisi Anda sebagai INVESTOR BELI dan Anda harus menghubungi PIALANG BELI yang kemudian meneruskan instruksi Anda tersebut kepada Pialang/WPPE-nya (Wakil Perantara Pedagang Efek) yang berada di Lantai Bursa (trading floor).
Instruksi beli tersebut dimasukkan (entry) ke system komputer perdagangan otomatis di Lantai Bursa yang dikenal dengan sebutan JATS (Jakarta Automated Trading Systems). Sistem komputer tersebut menggunakan system tawar-menawar sehingga untuk aktivitas beli akan diambil dari harga tertinggi dan sebaliknya untuk aktivitas jual diambil dari harga terendah.
Jika Anda ingin melakukan penjualan saham, maka posisi Anda adalah sebagai INVESTOR JUAL. Pada dasarnya proses yang dilakukan sama yaitu Anda harus menghubungi PIALANG JUAL dan seterusnya.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui ilustrasi
PROSES PENYELESAIAN TRANSAKSI
Proses penyelesaian transaksi antar pialang berlangsung dalam hitungan 4 hari (T+4) sejak terjadinya transaksi (T+0) baik untuk jual maupun beli. Sementara penyelesaian dengan investor, paling cepat dapat dilakukan pada (T+5).
Artinya kalau Anda membeli saham pada hari Senin,maka Anda akan menerima saham pada hari Senin berikutnya, demikian juga untuk proses jual, jika Anda menjual saham pada hari Senin,maka Anda akan menerima uangnya pada hari Senin berikutnya.


Bagaimana proses registrasi saham & mengapa saham perlu diregistrasi atau balik nama?
Jika dilihat dari sisi peralihan saham, maka saham dapat dibedakan atas (a) Saham Atas Nama, dan (b) Saham Atas Unjuk. Secara hukum, pemilik saham Atas Nama adalah yang namanya tertera pada surat saham tersebut. Sebaliknya saham atas unjuk seperti halnya uang, kepemilikannya ditentukan pada siapa yang memegang saham tersebut.
Di Pasar Modal Indonesia, semua saham yang beredar merupakan saham atas nama, sehingga jika untuk satu dan lain hal yang menyangkut pengakuan kepemilikan saham secara sah, maka diperlukan proses registrasi atas saham tersebut seperti halnya Anda melakukan balik nama atas BPKB kendaraan Anda.
Kalau saham yang Anda miliki sudah diregistrasi, maka Anda akan mendapatkan hak Anda seperti: pembagian dividen, mengikuti RUPS, saham bonus, right issue, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pengakuan kepemilikan.
Untuk melakukan registrasi atas saham yang Anda miliki, maka pertama-tama saham harus sudah dilegalisasi (endorse) oleh pialang terakhir dimana Anda membeli saham tersebut. Kemudian saham tersebut Anda bawa ke Biro Administrasi Efek (BAE) yang ditunjuk oleh perusahaan (emiten) yang bersangkutan untuk diproses registrasinya. Bursa Efek Jakarta menentukan bahwa batas waktu proses registrasi saham oleh BAE paling lama 5 hari kerja terhitung sejak diterimanya permohonan registrasi. Setelah melakukan registrasi maka pemodal telah terdaftar sebagai pemegang saham dan berhak mendapatkan seluruh hak-haknya sebagai pemegang saham.
Sebagai catatan, tidak semua registrasi saham dilakukan oleh BAE karena ada beberapa saham yang diregistrasi sendiri oleh emiten bersangkutan. Mengapa? Untuk saham-saham yang likuid (laris) dalam perdagangannya, maka akan lebih efisien bagi emiten untuk menyerahkan pengurusan registrasi tersebut ke BAE, namun bagi emiten yang sahamnya relatif tidak banyak dan tidak likuid maka emiten tersebut mampu menangani sendiri masalah registrasinya.
Biaya registrasi yang baru telah ditetapkan oleh Bapepam, sebagai berikut :
Saham perbankan setinggi-tingginya Rp.0,50 (nol koma lima puluh rupiah) per saham.
Saham di luar perbankan setinggi-tingginya Rp. 1.250 (seribu dua ratus lima puluh rupiah) per Surat Kolektif Saham.
c. Kapan jual beli (transaksi) di BEJ dilakukan?
d. Transaksi di Bursa dilakukan pada hari-hari kerja yang disebut Hari Bursa, yaitu :SESI I : Senin - Kamis : 09.30 - 12.00 WIB Jumat : 09.30 - 11.30 WIBSESI II : Senin - Kamis : 13.30 - 16.00 WIB Jumat : 14.00 - 16.00 WIB
Dimana dapat diperoleh informasi tentang saham ?
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa saham merupakan pilihan investasi yang cepat mengalami perubahan dan rentan terhadap berbagai isu yang berkembang. Bagi pemodal tentu saja hal tersebut penting untuk diketahui dan dipantau sehingga pemodal dapat mengambil posisi atas saham yang dipegangnya.
Media informasi yang dapat diakses pemodal antara lain
Media Cetak
Harian Bisnis Indonesia
Harian Ekonomi Neraca
Harian Republika
Harian Ekonomi Moneter
Harian The Jakarta Post
Mingguan Warta Ekonomi
Tabloid Kontan
Tabloid Kapital
Majalah Liquid
Majalah Investor
Majalah Jurnal Pasar Modal
Majalah Uang dan Efek
Majalah Pilar

Media Televisi/Stock Channel
TV Kabel Channel 950
INDOVISION Channel 43
Media Internet
Web site BEJ http://www.jsx.co.id
Web site Bapepam http://www.bapepam.co.id
Web site Indonesia Interactive http://investor.i-2.co.id
Web site Indo Exchange http://indoexchange.co.id
Web Site Stock Watch http://limas.com
Media Lain
RTI, IMQ, Basic Info, Stockwatch
Reuters
CNBC
4.GLOSSARY
5. Ask Price.Harga terendah yang ditawarkan untuk menjual
6. Bid Price. Harga tertinggi yang diminta untuk membeli
7. Broker (pialang). Pihak yang melaksanakan/eksekusi baik pembelian maupun penjualan saham. Pialang bekerja berdasarkan amanat investor baik untuk kegiatan beli maupun jual. Pialang mendapat komisi dari aktivitasnya berdasarkan negosiasi dengan investor.
8. Dividen. Bagian keuntungan perusahaan yang diberikan kepada pemegang saham.
9. Efek. Surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kolektif kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek.
10. Emiten. Pihak atau perusahaan yang menawarkan efeknya kepada masyarakat investor melalui penawaran umum.
11. Go Public. Suatu perusahaan yang baru pertama kali menawarkan saham sahamnya kepada masyarakat pemodal.
12. Harga Pembukaan (open). Harga yang terjadi pertama kali pada saat jam Bursa dibuka.
13. Harga Penutupan (Close). Harga yang terjadi terakhir pada saat akhir jam Bursa.
14. Harga Tertinggi/Terendah. Harga saham yang paling tinggi atau paling rendah terjadi pada satu hari Bursa.
15. Harga Nominal. Harga yang diberikan dan tertulis pada suatu saham atau obligasi.
16. Harga Pasar. Harga jual-beli yang sedang berlaku di pasar.
17. Harga Perdana. Harga pada waktu pertama kali suatu efek dikeluarkan/ditawarkan kepada masyarakat.
18. Index ( Index Harga Saham ). Indikator utama yang menggambarkan pergerakan harga saham. Di Bursa Efefk Jakarta terdapat 4 jenis indeks, yaitu (1) Indeks Harga Saham Individual, (2) Indeks Harga Saham Sektoral, (3) Indeks Harga Saham Gabungan, dan (4) Indeks LQ45.
19. JATS. Singkatan dari Jakarta Automated Trading System yang merupakan system perdagangan Efek yang berlaku di Bursa Efek Jakarta untuk perdagang yang dilakukan secara otomatis dengan menggunakan sarana komputer.
20. Kliring. Proses penentuan hak dan kewajiban Anggota Kliring yang timbul atas transaksi bursa yang dilakukan di Bursa Efek. Tujuan dari proses kliring adalah agar masing-masing Anggota Kliring mengetahui hak dan kewajibannya baik berupa Efek maupun uang untuk diselesaikan pada tanggal penyelesaian.
21. Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP). Lembaga yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa. Saat ini lembaga ini diselenggarakan oleh PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia atau disingkat KPEI.
22. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP). Lembaga yang menyelenggarakan kegiatan kustodian sentral (tempat penyimpanan terpusat ) bagi Bank Kustodian, Perusahaan Efek dan pihak lain. Saat ini lembaga ini diselenggarakan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau disingkat KSEI.
23. Manager Investasi. Pihak yang mendapat izin dari Bapepam utnuk mengadakan kegiatan usaha mengelola Portofolio Efek bagi para nasabah atau mngelola Portfolio Investasi kolektif untuk sekelompok nasabah.
24. Odd Lot. Satuan jumlah saham yang jumlahnya lebih kecil dari satuan perdagangan saham di Bursa Efek, sehingga jumlah tersebut tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler. Satuan perdagangan di BEJ adalah 500 saham.
25. Pasar Sekunder ( Secondary Market ). Suatu istilah yang menunjukan perdagangan Efek setelah diterbitkan dan dijual untuk pertama kali (emisi baru). Jadi setelah pasar perdana atau perdagangan di Bursa Efek.
26. Perantara Pedagang Efek. Perusahaan yang bertindak sebagai perantara bagi pemodal yang ingin membeli atau menjual efek di pasar modal / bursa.Perusahaan yang sama dapat juga membeli atau menjual efek atas namanya sendiri, bila ia bertindak bukan lagi sebagai perantara tetapi sabagai pedagang.
27. Perusahaan Efek. Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, Manager Investasi.
28. Reksa Dana (Mutual Fund). Wadah yang dipergunakan utnuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portfolio Efek oleh Manajer Investasi.
29. Saham ( Stock). Bukti penyertaan modal di suatu perusahaan, atau merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan.

Nofie Iman
A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you’ve come to the right place.
How to Boost Your Business
Investasi Saham Untuk Pemula
March 9th, 2008 Investment
“When it comes to predicting the market, the important skill is not listening, but snoring. The trick is not to learn to trust your gut feelings, but rather to discipline yourself to ignore them. Stand by your stocks as long as the fundamental story of the company hasn’t changed.”—-Peter Lynch
“Rule number one of investing is never lose money.Rule number two is never forget rule number 1″—-Warren Buffet
Sebagian besar masyarakat kita pernah mendengar kata “saham” namun tak jarang yang masih menyisakan banyak pertanyaan di benaknya. Misalnya, apakah investasi saham bisa dilakukan oleh individu? Atau, andaikata penghasilan saya kurang dari Rp 5 juta per bulan, bisakah saya berinvestasi saham? Atau, seandainya saya ingin berinvestasi, apa tahapannya dan siapa yang harus saya hubungi? Nah, karena ada beberapa email yang mengajukan pertanyaan serupa, maka sekalian saja saya tulis di sini.
Seperti kita tahu, saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Anda membeli saham berarti Anda membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Selama perusahaan beroperasi dan membukukan keuntungan, Anda juga berhak mendapat bagian dalam bentuk dividen. Anda juga bisa mengambil keuntungan dari naiknya harga saham tersebut dari waktu ke waktu. Untuk lebih lengkapnya, silakan download dan pelajari publikasi Bursa Efek Indonesia berikut.
Bagaimana Memulainya?
Sebelum memulai berinvestasi, Anda harus membuka rekening efek terlebih dahulu melalui perusahaan sekuritas yang terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain itu Anda diharuskan menyetor sejumlah deposit yang bisa bervariasi antara Rp 10 juta - Rp 50 juta. Masing-masing sekuritas berbeda satu sama lain—-ada yang menawarkan full-service, ada yang hanya melayani jual-beli saja. Ada pula perusahaan sekuritas yang memberikan jasa online brokerage, sehingga Anda bisa melakukan jual-beli lewat internet. Beberapa di antaranya adalah:
Etrading Securities
Indo Premier Securities
Phillip Securities Indonesia
Samuel Sekuritas Indonesia
Sarijaya Permana Sekuritas
Supra Securinvest
Daftar lengkapnya bisa dilihat di sini.
Setelah Anda mengisi form, melengkapi persyaratan dan administrasi, biasanya 2-3 hari kemudian Anda bisa mulai berinvestasi. Besarnya fee untuk bertransaksi sekitar 0,2% untuk beli dan 0,3% untuk jual. Perusahaan sekuritas biasanya membolehkan Anda untuk bertransaksi yang nilainya 2-3 kali dari deposit yang Anda setorkan. Dana biasanya ditransfer dari/ke rekening Anda pada T+2 (beli) sampai T+3 (jual).
Namun, Anda juga perlu berhati-hati dengan broker. Mereka dibayar berdasarkan komisi beli-jual—-tak peduli Anda untung atau rugi. Broker-broker nakal bahkan sering menggunakan dana Anda tanpa ijin untuk melakukan trasaksi sendiri. Selain itu, sebagian broker (perusahaan sekuritas) juga bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter) ketika sebuah perusahaan mendaftarkan diri di bursa. Demi alasan marketing, mereka punya kepentingan untuk menjaga agar harga saham emiten tersebut tetap “bagus.” Oleh karenanya, jangan jadikan rekomendasi dari analis sebagai sumber utama dalam melakukan investasi—-melainkan sebagai masukan saja. Yang terbaik tentu saja do your own homework!
Analisis Fundamental & Teknikal
Dalam dunia investasi, ada 2 metode yang lazim digunakan sebagai alat, yaitu fundamental analysis (FA) dan technical analysis (FA). FA menilai saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan itu sendiri, karenanya, FA lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Seorang FA sejati biasanya tak cuma sekadar menganalisis data keuangan saja, tetapi juga datang ke perusahaan yang diincar, berbicara dengan manajemen dan pemiliknya, melihat visi-misi dan strategic plan ke depan, dan sebagainya. Tak jarang seorang FA sejati sampai terbang ke seantero dunia demi mengorek informasi langsung dari perusahaan.
Sementara itu, TA menilai harga saham berdasarkan refleksi harga di masa lalu dengan membaca sentimen, tren, dan proyeksi yang mungkin terjadi di masa depan. TA akan membantu Anda memerkirakan arah pergerakan harga, membuat batas-batas pergerakan dalam kondisi tertentu, serta menunjukkan target arah beserta risikonya. TA lazimnya dilakukan dengan bantuan software aplikasi dan banyak mengeksploitasi grafik (chart). Karena sifat dan karakternya, TA lebih cocok untuk trading (spekulasi) dalam jangka pendek atau perlindungan (hedging).
Khusus di Indonesia, ada sebagian orang yang memasukkan bandarmologi analysis (BA) sebagai salah satu alat alternatif. Singkatnya, BA dilakukan dengan mencari rumor dan bisikan tertentu, lalu membonceng bandar saat mereka akan menggoreng sebuah saham. BA hanya sesuai untuk dilakukan dalam waktu yang benar-benar pendek—-dan Anda punya akses untuk menemukan saham mana yang siap untuk digoreng.
Gorengan (cornering) adalah aksi yang dilakukan untuk memanipulasi harga dengan membuat permintaan yang sangat tinggi atas saham tersebut. Setelah harga sahamnya melewati target point tertentu, mereka kemudian melakukan aksi jual untuk meraih capital gain. Saham-saham gorengan biasanya merupakan saham lapis dua-tiga yang peredarannya tidak banyak dan harganya relatif murah. Mereka bisa naik-turun dengan sangat drastis tanpa sebab yang jelas dan harga saham tidak mencerminkan kinerja yang sesungguhnya.
Mana yang paling tepat? Masing-masing hanya sebuah alat yang akan bermanfaat bila digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat pula. Saya sendiri lebih menyukai FA karena filosofi saya adalah membeli saham dalam rangka memiliki perusahaan tersebut. Selama ini, semua dihitung hanya dengan kalkulator (atau ponsel) dan dicatat di kertas/map tanpa software khusus. Sejauh ini, saya juga belum pernah menjual saham yang pernah saya beli.
Kalau Anda tertarik mempelajari lebih lanjut fundamental analysis, silakan baca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, terbitan HarperBusiness Essential. Aslinya, buku ini terbitan tahun 1973, namun ditulis ulang tahun 2003. Buku Henry Markowitz, Portfolio Selection: Efficient Diversification of Investments, terbitan Yale University Press juga layak dijadikan referensi.
Sementara itu, kalau Anda lebih prefer ke technical analysis, saya sarankan baca buku Technical Analysis of the Financial Markets karya John Murphy, terbitan New York Institute of Finance (1986). Ada juga yang menyarankan buku Technical Analysis A to Z karya Stephen Achelis (2003)—-tapi saya belum pernah baca. Mengenai bandarmologi analysis, sejauh ini nampaknya belum ada buku yang menulis khusus tentang itu. :)
Memilih Saham Unggulan
Setelah rekening efek Anda siap dan Anda sudah bisa melakukan jual/beli saham, maka bagian tersulit dari investasi saham adalah memilih jagoan yang nantinya akan memberikan hasil terbaik bagi kita. Karena saham merupakan tanda kepemilikan kita atas perusahaan, maka ada baiknya untuk berfikir layaknya pemilik bisnis (business owner). Sebelum menentukan perusahaan mana yang ingin dibeli, lakukan investigasi terlebih dahulu terhadap fundamental perusahaan yang Anda incar.
Ada ratusan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Anda bisa memulai dengan menyortir perusahaan-perusahaan dengan bidang bisnis yang Anda pahami atau perusahaan-perusahaan yang memiliki produk dan jasa unggulan. Pilih perusahaan yang Anda perkirakan akan terus bertumbuh selama 10, 20, 30 tahun ke depan. Selanjutnya, sortir berdasar manajemen dan pemiliknya. Pilih perusahaan yang dikelola oleh tim manajemen yang mumpuni. Hindari perusahaan yang punya tren “aneh”, misalnya sebuah perusahaan batubara ketika harga komoditi batubara naik namun harga sahamnya justru turun.
Ada baiknya juga memilih perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah atau grup bisnis yang terkenal profesional. Perusahaan yang dimiliki pemerintah (BUMN) biasanya “dituntut” untuk profitable dan memberikan sumbangan kepada negara melalui penerimaan dividen. Hindari perusahaan yang dimiliki (dikelola) oleh grup-grup bisnis yang memiliki reputasi kurang baik. Berhati-hatilah karena mereka tak jarang melakukan manipulasi laporan keuangan atau melakukan trik financial engineering yang kasar.
Warren Buffett menyarankan untuk memilih perusahaan yang memiliki economic moats, atau keunggulan kompetitif yang sulit untuk ditiru oleh kompetitornya. Economic moats bisa berupa keunggulan dalam bentuk brand (kekuatan merk), cost (efisiensi biaya), switching (”kesulitan” untuk berpindah ke produk/jasa lain), atau protection (perlindungan berupa paten, hak pengelolaan, aturan pemerintah, dsb). Economic moats tersebut akan membuat customer rela membayar lebih tinggi. Oleh karenanya, perusahaan yang memiliki economic moats bagus akan lebih profitable dan tetap bisa bertumbuh—-sekalipun suku bunga atau harga-harga sedang naik.
Sebagian orang juga menyarankan untuk membeli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar (bluechip) dan yang likuid serta sering dijualbelikan (LQ45). Perhatikan juga bila perusahaan tersebut berencana untuk membeli kembali (buyback) saham mereka. Biasanya itu merupakan pertanda saham mereka dihargai lebih murah dan punya prospek yang bagus di masa depan.
Masih bingung juga? Mungkin Anda bisa sedikit “mencontek” portofolio dari reksadana saham yang selama ini punya kinerja moncer. Isi perut reksadana tersebut bisa dilihat dari laporan tahunan dan/atau prospektus mereka. Anda bisa gunakan portofolio mereka sebagai guidance untuk menyeleksi perusahaan yang akan menjadi tempat Anda berinvestasi.
Nah, kalau Anda menyortir sekian ratus perusahaan yang listing di BEI, maka sampai tahap ini pilihan yang tersisa mungkin tinggal 20-30 perusahaan saja. Cari informasi lebih lengkap tentang kondisi sebenarnya perusahaan tersebut, misalnya dari karyawan, klien, supplier, atau akuntan yang mengaudit perusahaan tersebut. Bila ada waktu, kunjungi perusahaannya supaya mendapat gambaran yang lebih lengkap. Kalau tidak, berarti Anda harus “make sure” bahwa laporan keuangan sudah mencerminkan kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut.
Baca laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan-perusahaan yang Anda incar. Anda bisa menemukannya di sini, sini, dan sini. Alternatifnya, Anda juga bisa men-download di situs web perusahaan yang bersangkutan.
Pilih perusahaan dengan return on equity (ROE) lebih dari 15%. Hal ini menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang dimilikinya. Kalau ROE hanya berkisar 8-9%, maka berinvestasi di perusahaan tersebut sama saja dengan menabung dalam bentuk deposito.
Selanjutnya, pilih perusahaan yang pertumbuhan laba (earning growth) stabil berkisar antara 20% atau lebih. Pilih juga perusahaan yang memiliki rasio utang terhadap modal yang relatif rendah dan rasio harga per free cashflow rendah. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan kas dalam jumlah besar untuk membiayai operasional perusahaan dan melakukan ekspansi tanpa perlu mengandalkan pinjaman dari luar yang berbiaya tinggi. Rasio debt/capital yang rendah juga memungkinkan perusahaan menghasilkan cashflow yang lebih sehat dan tak terlalu sensitif dengan pergerakan suku bunga.
Sampai tahap ini, mungkin tinggal 10-15 perusahaan saja yang tersisa di tangan Anda.
Memprediksi Harga Wajar Saham
Asumsikan Anda sudah menemukan 10-15 perusahaan terbaik menurut Anda. Lalu, bagaimana cara untuk menentukan harga wajar saham tersebut? Pertama, tentukan earning per share (EPS) dan tren pertumbuhannya untuk 5 tahun ke depan. Kalau pertumbuhannya di atas 15%, gunakan rate 15%; sementara bila pertumbuhannya di bawah 10%, gunakan rate 10%. Kalikan untuk melihat future value pada akhir tahun kelima.
Setelah menemukan EPS pada akhir tahun kelima, kalikan dengan price earning ratio (PER) pada tahun tersebut. PER pada tahun tersebut dihitung dengan aturan sederhana; bila PER kurang dari 20%, gunakan rate 12%; bila PER lebih dari 20%, gunakan rate 17%. Selama ini, penelitian menunjukkan sangat jarang perusahaan membukukan PER tinggi lebih dari 17% selama bertahun-tahun. Setelah dikalikan, Anda akan menemukan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima.
Selanjutnya, tentukan berapa value sebenarnya saham tersebut. Caranya, tambahkan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima dengan dividen yang diperoleh. Dividen dihitung dengan menjumlahkan EPS selama lima tahun dikalikan dengan dividen payout ratio (DPR). Setelah ketemu fair value saham tersebut pada akhir tahun kelima, tinggal mendiskontokan ke nilai sekarang dengan target (hurdle rate) yang kita inginkan.
Perhatikan contoh berikut. Dengan menggunakan hurdle rate 15%, yaitu mengasumsikan saham perusahaan akan memberikan return 15% secara kontinu, saham TLKM bisa dibeli di bawah harga Rp 10.500. Sementara dengan hurdle rate 20%, saham TLKM harus dibeli di bawah harga Rp 8.500. Nah, bila harga saat ini Rp 9.700, kalau mengharap return setidaknya 15% per tahun, Anda boleh membeli sekarang. Namun, bila Anda mengharapkan return setidaknya 20%, Anda harus menunggu sampai harganya turun ke Rp 8.500.
Tentu saja perhitungan tersebut masih sangat kasar. Saya juga menghitung hanya dengan corat-coret. Selain itu, rate yang saya gunakan sangat konservatif karena banyak dari saham tersebut memiliki pertumbuhan EPS dan PER sangat tinggi. Bisa jadi, harga yang nantinya terbentuk jauh melampaui perhitungan tersebut. Tapi setidaknya simulasi di atas bisa jadi acuan untuk menaksir harga wajar suatu saham.
Setelah menemukan 5-7 saham terbaik yang memenuhi hurdle rate Anda dan diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, buy as much as you can. Hold untuk waktu yang lama. Insya Allah 4-5 tahun investasi Anda mulai menunjukkan hasil.
Last but Not Least
Invest your time before invest your money. Sebelum terjun beneran, ada baiknya untuk meluangkan waktu belajar, membaca buku, mengikuti workshop, dan menggali lebih banyak informasi lain. [Promosi: Saya sedang menulis buku lebih detil soal saham. Mohon doa restu, mudah-mudahan bisa segera terselesaikan. :) ]
Jangan lupakan juga aturan dasar dalam berinvestasi: beli perusahaan bagus dengan harga diskon. Don’t be afraid to wait. Cari timing bagus yang memungkinkan Anda membeli di harga murah, misalnya bulan-bulan Januari-Februari. Kalau Anda bisa membeli murah, walaupun harga tidak naik, Anda tetap melakukan “best buying” dan tetap mendapatkan potensi keuntungan melalui dividen.
Bagaimana dengan pergerakan naik turunnya harga? Saya sendiri tak terlalu memedulikan. John Bogle, dalam tesisnya sewaktu masih di Princeton, mengatakan bahwa dalam jangka pendek harga akan selalu bergerak mengikuti psikologi dan sentimen pasar. Namun dalam jangka panjang, harga akan mencerminkan fundamental perusahaan itu sendiri. Selama tembakan kita jitu, dalam jangka panjang, ia akan memberi keuntungan yang cukup lumayan buat kita. Jangan tergoda untuk keluar-masuk hanya karena fluktuasi harga. Lebih baik Anda fokus pada pekerjaan lain atau mencari penghasilan alternatif untuk diinvestasikan lagi ke portofolio Anda.
Walau terdengar klise, jangan lupa untuk selalu berdoa agar dibimbing dalam membuat analisis dan keputusan investasi terbaik. Kalau investasi Anda sudah sukses, jangan lupakan untuk sisihkan setidaknya 10% dari keuntungan Anda buat mereka yang kurang beruntung. Kalau ada orang lain yang tertarik mencoba mengikuti jejak Anda, jangan segan-segan untuk membagi ilmu dan pengalaman.
Situs Referensi
Bapepam-LK
Bisnis Indonesia
Bloomberg
Bursa Efek Indonesia
CNBC
CNN
Detik Finance
E-Bursa
Financial Times
KSEI
Investopedia
Investor Indonesia
Reuters
Stockwatch
Wall Street Journal
Yahoo! Finance
Untuk sementara, demikian dari saya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah atau terkesan menggurui. Saya hanya sekadar sharing. Bila ada kritik, saran, atau pertanyaan, please don’t hesitate to ask me. Siapa tahu saya bisa membantu. :)
Possibly Related:
Buku Investasi untuk Pemula
Kontes Review Berhadiah
Buku Memulai Investasi Reksadana
Bermain Deposito Saham
Mari Bermain Saham
Nofie Iman
A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you’ve come to the right place.
How to Boost Your Business
Analisis: Koleksi Saham di Tahun 2006
January 12th, 2006 Investment
Perlu diketahui bahwa investor-investor hebat dan berpengalaman tidak begitu saja bergantung pada research yang umumnya berasal dari para analis pasar modal yang kompeten. Para analis tersebut umumnya berasal dari perusahaan-perusahaan sekuritas asing yang berani menggaji mahal atau dari tim investor itu sendiri.
Akan tetapi, satu hal yang sering disalahartikan adalah bahwa analis tidak dibayar untuk memprediksi harga atau pergerakan suatu saham. Para analis digaji untuk sekadar menilai harga wajar (fair value) suatu saham tertentu pada waktu dan kondisi yang tertentu pula karena kebanyakan investor selalu memprediksi harga berdasarkan nilai wajarnya. Meskipun memang tidak menutup kemungkinan terdapat sebagian investor yang mengandalkan koran, teman-teman, mimpi, primbon, dan sebagainya.
Memang masing-masing metode analisis mempunyai plus dan minusnya tersendiri. Akan tetapi, ketika Anda tahu tingkat supply dan demand suatu saham pada jangka waktu tertentu, Anda sudah berada pada jalur yang benar. Dan berikut ini sedikit analisis saya tentang saham-saham yang layak dikoleksi di tahun 2006 ini.
ANTM
Harga nikel yang terbilang tinggi menyebabkan margin ANTM cukup besar. Tren kenaikan harga emas dan alumunium hingga 3 tahun ke depan juga akan berpengaruh signifikan terhadap ANTM. Sementara itu kapasitas produksi dan overhault akan meningkatkan volume dan efisiensi produksi ANTM. Proyek Alumina Tayan, FeNi 3, dan seterusnya akan memberi kontribusi revenue yang besar. Inilah yang menjadikan fund manager asing banyak memburu ANTM. ANTM juga mempunyai perusahaan patungan seperti PT Nusa Halmahera Minerals dan PT Cibaliung Sumberdaya dengan proyeksi produksi masing-masing sekitar 140.000 troy ons (4.622 kg) dan 70.000 troy ons (2.333 kg). Asumsikan harga emas per troy ons sebesar US$ 462.6, potensi penjualan dari kedua perusahaan tersebut sebesar Rp 647,4 miliar dan Rp 323,7 miliar. Dengan asumsi net margin keduanya yang sama dengan ANTM, maka laba bersih yang diperoleh sekitar Rp 138,5 miliar dan Rp 69,3 miliar. Adapun proyeksi dividen yang akan diterima tak kurang dari Rp 35,5 miliar. Dengan pertimbangan price earning ratio (PER) di 7,5, maka target 4750 bisa terkejar.
BMRI
Banyak guncangan yang sudah menghajar saham ini secara bertubi-tubi di tahun 2005. Sebut saja mulai dari pengadilan mantan direksi BMRI, kenaikan suku bunga yang gila-gilaan, hingga rasio non performing loan (NPL) yang meningkat tajam sampai-sampai harus melakukan write-off. Akan tetapi, setelah berhasil melalui guncangan maha dahsyat tersebut, tahun ini saya yakin BMRI akan menuai nikmatnya. Earning per share (EPS) BMRI pada kondisi wajar setidaknya sebesar 200. Earning BMRI juga bisa meningkat sampai 250 kalau salah satu kredit macet yang sudah diwrite-off bisa mulai terbayar. So, dengan support 1200 dan target 2500, saham ini layak menjadi salah satu koleksi Anda di tahun ini.
TLKM
Adanya fakta bahwa TLKM masih memegang monopoli telekomunikasi, nilai tukar rupiah yang kian stabil, hingga tender 3G yang akan digelar tahun ini, menjadikan tahun 2006 sebagai tahun yang cukup indah bagi TLKM. Andaikata rugi kurs yang sangat signifikan pada tahun 2004 dan 2005 bisa dikeluarkan, EPS TLKM yang sebenarnya akan terlihat sangat cantik. Itu belum termasuk dengan laba operasional yang diperkirakan akan naik 20% per tahun. Dengan support 4800 dan target 7500, saham ini sungguh luar biasa.
BNLI
Enough said. BNLI akan segendang sepenarian dengan BMRI. Setelah begitu banyak pembenahan yang dilakukan di tahun 2005, inilah saatnya untuk mulai menuai hasil. Plus, andaikata pemerintah serius menjual sisa kepemilikan di BNLI, laporan keuangannnya akan sangat aduhai. Satu hal yang perlu dicatat adalah kedua pemilik dari BNLI saat ini mempunyai cadangan kas yang lumayan besar. Jadi, resiko akan adanya kemungkinan right issue perlu juga untuk dipertimbangkan. Support di 650 dan target di 800!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar